Ilmuan Berhasil Identifikasi Bakteri Terkait Depresi

Depresi (Major depressive disorder) adalah penyakit mental yang diderita oleh lebih dari 300 juta manusia di seluruh dunia. Depresi dapat mengakibatkan kualitas hidup penderitanya menurun, termasuk penurunan prestasi akademik, kualitas dan kuantitas kerja bahkan keinginan untuk melukai diri sendiri.

 

View this post on Instagram

 

Depresi (Major depressive disorder) adalah penyakit mental yang diderita oleh lebih dari 300 juta manusia di seluruh dunia. Depresi dapat mengakibatkan kualitas hidup penderitanya menurun, termasuk penurunan prestasi akademik, kualitas dan kuantitas kerja bahkan keinginan untuk melukai diri sendiri. Depresi umumnya dikaitkan dengan menurunnya jumlah asam gamma butirat (Gamma butyric acid, GABA), salah satu neurotransmiter yang membuat Anda relak dan fokus. Mikrobiota usus adalah salah satu sumber alami GABA pada tubuh Anda. Namun, ilmuwan belum mampu mengidentifikasi bakteri manakah yang bertanggung jawab pada proses produksi GABA. Pada tahun 2018 lalu, sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Jack Gilbert dari University of California berhasil mengisolasi bakteri dengan kode isolat KLE1738. Bakteri ini cukup unik karena hanya dapat tumbuh pada media yang mengandung GABA. Fakta ini kemudian dimanfaatkan oleh Strandwitz dkk untuk mengidentifikasi bakteri penghasil GABA. Caranya sangat simpel. Kelompok ilmuwan Ekologi Mikrob ini menumbuhkan KLE1738 bersama-sama bakteri yang diisolasi dari sampel kotoran manusia. Hasilnya, isolat KLE1738 hanya tumbuh pada area di sekitar bakteri penghasil GABA. Dengan teridentifikasinya bakteri-bakteri tersebut, besar kemungkinan penggunaan terapi mikrob untuk mengatasi depresi. Selama ini, penyakit mental tersebut diobati dengan obat-obatan yang memiliki efek samping tidak menyenangkan bagi penderitanya. Pada masa mendatang, tidak mustahil akan ada minuman ‘probiotik’ antidepresi yang diresepkan oleh psikiater untuk membantu penderita depresi agar kembali bahagia dan produktif. Sumber : Strandwitz et al.Nat Microbiol. 2019;4(3):396-403 #mikrobiologi #faktamenarik

A post shared by mikrobionesia (@mikrobionesia) on


Depresi umumnya dikaitkan dengan menurunnya jumlah asam gamma butirat (Gamma butyric acid, GABA), salah satu neurotransmiter yang membuat Anda relaks dan fokus. Mikrobiota usus adalah salah satu sumber alami GABA pada tubuh Anda. Namun, ilmuwan belum mampu mengidentifikasi bakteri manakah yang bertanggung jawab pada proses produksi GABA.

Baca juga :  Jamur dalam Tubuh Manusia

Pada tahun 2018 lalu, sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Jack Gilbert dari University of California berhasil mengisolasi bakteri dengan kode isolat KLE1738. Bakteri ini cukup unik karena hanya dapat tumbuh pada media yang mengandung GABA.

Fakta ini kemudian dimanfaatkan oleh Strandwitz dkk untuk mengidentifikasi bakteri penghasil GABA. Caranya sangat simpel. Kelompok ilmuwan Ekologi Mikrob ini menumbuhkan KLE1738 bersama-sama bakteri yang diisolasi dari sampel kotoran manusia. Hasilnya, isolat KLE1738 hanya tumbuh pada area di sekitar bakteri penghasil GABA.

Dengan teridentifikasinya bakteri-bakteri tersebut, besar kemungkinan penggunaan terapi mikrob untuk mengatasi depresi. Selama ini, penyakit mental tersebut diobati dengan obat-obatan yang memiliki efek samping tidak menyenangkan bagi penderitanya. Pada masa mendatang, tidak mustahil akan ada minuman ‘probiotik’ anti depresi yang diresepkan oleh psikiater untuk membantu penderita depresi agar kembali bahagia dan produktif.

Sumber : Strandwitz et al.Nat Microbiol. 2019;4(3):396-403

#mikrobiologi #faktamenarik

Lai Karomah
Member of Microbiology Div and WordPress Tech at Generasi Biologi Indonesia Foundation.