AI Chatbots, Publikasi Ilmiah, dan Masa Depannya untuk Sains

waktu baca 10 menit
Kamis, 23 Mar 2023 19:06 0 1884 Maulana Malik Nashrulloh

Di penghujung 2022 (30 November 2022), dunia dikejutkan dengan teknologi ChatGPT [1], sebuah AI chatbot yang merevolusi bagaimana kita menggunakan internet untuk mencari informasi. Meskipun bukan yang pertama [2], ada perkembangannya, ChatGPT sebagai “si paling tahu” di Internet ini dimanfaatkan sebagai pembantu untuk menulis berbagai hal, dari puisi, suatu panduan how-to untuk kegiatan tertentu, tanya jawab pengetahuan umum, hingga menulis paper dan esai. Meski menawarkan kemudahan, akan tetapi, kita amat perlu mewaspadai teknologi ini, dikarenakan dampak disruptifnya di berbagai lini. Artikel ini ditulis dari sudut pandang penulis tentang apa itu AI chatbots, perannya kini di penulisan ilmiah, dan bagaimana menyikapinya.

Apa itu AI Chatbots?

AI chatbot adalah teknologi chat berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) yang memungkinkan kita berinteraksi dengan luwes dengan pemangkal data. Tidak seperti search engine seperti Google, Yahoo, DuckDuckGo dan lain sebagainya yang mana memberikan kita seabrek informasi yang ada diinternet untuk kita pilihi satu persatu, AI chatbot memungkinkan kita untuk berkomunikasi dua arah tentang bagaimana informasi yang terhimpun di database AI chatbot itu disampaikan, seperti layaknya kita berkomunikasi dua arah antara kita sebagai pencari dengan chatbot sebagai “si paling tahu”.

Bagaimana AI Chatbot bisa sepintar itu? Hal itu dikarenakan AI Chatbot memiliki set data yang disertakan sebagai rujukan pengetahuan dan informasinya. AI Chatbot populer seperti ChatGPT misalnya, telah memiliki data yang telah dihimpun hingga September 2021 pada databasenya. Oleh karenanya, ChatGPT memiliki keterbatasan untuk pengetahuan di luar September 2021 [3]. Meski demikian, data yang dikandung ChatGPT sendiri cukuplah masif, sekitar 570 GB data teks atau sekira 300 miliar kata [4]. Akan tetapi, ChatGPT tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk memperbaharui data melalui crawling di internet, sehingga pengetahuan ChatGPT hanya dibatasi oleh sebatas data yang dimiliki saja untuk dilakukan text mining [4]. Penantang ChatGPT, BingAI yang dirilis oleh Microsoft [5], malah dilengkapi dengan kemampuan crawling, sehingga pengetahuannya senantiasa berkembang mengikuti informasi terkini.

Sebagaimana AI chatbot yang telah ada, baik ChatGPT maupun BingAI berdiri diatas teknologi Large Language Model. Large Language Model adalah model pembelajaran mesin yang dapat mengenali, merangkum, menerjemahkan, memprediksi, dan membuat teks sesuai dengan parameter pertanyaan (query) yang telah dimasukkan [6]. Melalui alogritma yang ada pada AI chatbot, query itu diolah dan dianalisis sehingga dapat disusun kata – kata yang cocok pada  untuk dirangkai menjadi kalimat yang terlihat masuk akal dan dapat dipahami [7].

Disrupsi Teknologi dalam Teknologi AI Chatbot dan Dampaknya Kepada Ilmu Pengetahuan

Menurut Flavin [8], teknologi yang mampu merubah cara operasi yang dilakukan oleh konsumen, industri, dan bisnis secara signifikan dan merubah praktek – praktek dan kebiasaan lama menjadi praktek dan kebiasaan baru merupakan teknologi yang bersifat disruptif. Dikatakan teknologi disruptif karena mengganggu teknologi yang sudah dahulu ada Perkembangan teknologi AI merupakan salah satu bentuk teknologi disruptif [9], karena kemudahan – kemudahan yang ditawarkannya awatlah menjanjikan untuk kepraktisan dan peningkatan efisiensi kegiatan – kegiatan yang dilakukan manusia.

Girasa [9] menjabarkan tahapan-tahapan disrupsi dikarenakan masuknya teknologi disruptif di masyarakat sebagaimana berikut:

  1. Paralisis: Terjadinya dirsupsi yang tidak terantisipasi dan tidak direncanakan kehadirannya. Sehingga masyarakat mengalami ketidak tentuan dalam bersikap untuk menyikapi kehadiran teknologi ini.
  2. Reaksi: Munculnya reaksi perlawanan dari yang sudah mapan, sehingga muncul upaya untuk pelanggengan seperti lobi politik untuk mencegah masuknya teknologi ini di sektor mana yang telah mapan, perbaikan dari teknologi yang yang sudah ada, melawanan dan menolak teknologi.
  3. Perubahan:  Masyarakat menerima teknologi, merubah perilaku, dan menyesuaikan pola hidup dengan teknologi baru tersebut.
  4. Penerimaan: Masyarakat menerima teknologi tersebut sepenuhnya dan menggunakannya.

Teknologi AI Chatbot, menawarkan banyak kemudahan seperti memotong waktu pengerjaan pekerjaan yang berkaitan dengan tulis menulis, termasuk penulisan ilmiah. Di bidang biologi dan serumpunnya, artikel – artikel yang dituliskan dengan bantuan teknologi ini telah hadir. ChatGPT, tampak merupakan AI chatbot yang paling sering digunakan untuk penulisan ilmiah. Tong dan Zhang [10] mendemonstrasikan kemampuan ChatGPT dalam menulis artikel tentang biologi sintetik, memprediksi tren perkembangan biologi sintetik, bahkan memberi saran kepada calon ahli biologi sintetik untuk terjun dibidang ini. Howard dkk. [11] mendemonstrasikan kemampuan ChatGPT dalam memberikan saran pemberian antibiotik.

Sudah Terlalu Jauhkah Kita?

Beberapa peneliti, bahkan mendaftarkan AI chatbot seperti ChatGPT sebagai penulis artikel mereka, seperti pada O’Connor dan ChatGPT [12], ChatGPT dan Zhavoronkov [13], dan King dan ChatGPT [14]. Paper yang pertama disebut kini akhirnya membuahkan corrigendum [15].

da Silva [16] dan Polonsky dan Rotman [17] menyoroti keras penyertaan ChatGPT sebagai penulis artikel. Alasannya pun jelas, yaitu terkait etik. Apabila kita merujuk kepada definisi tentang dari International Committee of Medical Journal Editors (ICMJE) [18], seorang penulis haruslah memenuhi empat kriteria sebagai penulis, yaitu:

  1. Memiliki kontribusi yang substansial atas pengkonsepan dan desain karya tulis, perolehan data, analisis data, dan interpretasi data.
  2. Mendraf karya tulis, atau ikut terlibat dalam merevisi konten secara kritis.
  3. Memberi persetujuan atas draf yang akan dipublikasikan.
  4. Bertanggung jawab atas seluruh aspek yang ada dalam karya tulis untuk memastikan agar pertanyaan terkait akurasi dan integritas dari bagian apapun pada suatu karya telah diselidiki dan diselesaikan secraa tepat.

Definisi ICMJE digunakan sebagai patokan standar dalam menentukan hak untuk menjadi penulis. AI chatbot, sebagai alat buatan manusia, tidak bisa dijadikan penulis dikarenakan walau dia memberi kontribusi dan juga turut serta dalam mendraf suatu karya, namun dia tidak bisa bertindak seperti halnya manusia dalam hal memberi persetujuan dan bertanggung jawab. Persetujuan mungkin bisa diberikan kepada seorang penanggung jawab, namun bagaimana tanggung jawab AI Chatbot sebagai pemberi informasi? Bisakah AI Chatbot dimintai pertanggung jawaban? Dalam hal merevisi, apakah AI Chatbot juga ikut serta dalam hal proses diskusi yang berarti dalam pembentukan suatu karya tulis?

Polonsky dan Rotman [17] menjabarkan bahwa implikasi keterlibatan suatu pihak dalam suatu karya juga menggambarkan ekspektasi yang diharap oleh pembaca dalam melihat kontribusi AI dalam suatu karya. Pada kasus keterlibatan AI Chatbot, peletakan peran AI Chatbot amatlah penting untuk didudukkan. Tabel berikut menggambarkan bagaimana implikasi pendudukan peran suatu AI Chatbot dan ekspektasi yang harusnya dipenuhi oleh AI Chatbot dalam suatu karya.

Tabel 1. Peran AI chatbot dalam karya tulis dan ekspektasi perannya [17].

Peran AI chatbot Ekspektasi Peran AI chatbot
Sebagai Co-author Penulisan suatu bagian dari karya tulis haruslah substansial, atau diinformasikan secara signifikan oleh AI chatbot dan diedit. AI chatbot harusnya ikut serta pula dalam sintesis dan analisis informasi yang didapat untuk memperoleh pengetahuan baru.
Diletakkan di Pengakuan (Acknowledgment) AI chatbot digunakan sebagai alat batu editing, mempertegas kejernihan tulisan, dan/atau mengidentifikasi kesalahan yang berlawanan dengan pengetahuan yang umum diketahui.
Sebagai kutipan (Quotation) Informasi dari AI chatbot dikutip di badan karya tulis. Untuk pengutipan harus jelas jenis dan versi AI chatbot yang digunakan dan kapan waktunya.
Sebagai sitasi (Citation) AI dinyatakan sebagai suatu alat bantu pada metode.

Isu lain yang patut dipertimbangkan adalah isu plagiasi dan akurasi penyajian informasi yang diberikan oleh AI chatbot. Mengingat AI chatbot memperoleh pengetahuan dengan mengumpulkan data lewat crawling dan text mining, maka potensi terjadi plagiasi karena mencantumkan informasi tanpa diketahui sumbernya juga menjadi masalah [19]. Selain itu penyajian AI chatbot seperti ChatGPT juga kurang mendalam memberi kesan dangkalnya pengetahuan yang dimiliki AI chatbot sehingga bisa dianggap dapat memberikan informasi yang terbatas [20].

Menyikapi Penggunaan AI Chatbot 

van Dis dkk. [21] mengemukakan bahwa penggunaan teknologi AI Chatbot seperti ChatGPT perlu dibicarakan lebih lanjut dan disikapi dengan penuh kehati – hatian. Imbas dari maraknya penggunaan AI chatbot, penerbit jurnal – jurnal internasional seperti Nature, Science, Elsevier, eLife melarang penyertaan AI chatbot sebagai penulis. Mereka lebih suka peneliti ataupun penulis artikel untuk menyertakan pernyataan bahwa AI chatbot seperti ChatGPT sebagai alat bantu penulisan dan menyertakan detail – detail pada bagian mana AI chatbot itu digunakan [22].

Di luar negeri, platform alat bantu pendeteksi AI sudah dibuat, seperti Scale AI Detector (Gold Penguin), Originality.ai (Gold Penguin), GTLR.io (MIT-IBM Watson AI lab dan Harvard NLP), dan OpenAI Classifier (OpenAI), meski dengan keterbatasan masing – masing platform. Meksi demikian, dengan kejelian, kita dapat membedakan mana teks yang dibuat dengan AI chatbot, mana yang benar – benar orisinil sebagai mana berikut [23].

  1. Panjang kalimat yang terlalu panjang.
  2. Terdapat repetisi kata atau frasa yang kelihatan tampak masuk akal, namun tidak tepat digunakan sesuai konteksnya.
  3. Tampak dangkal atau bahkan tidak dianalisis, sehingga tampak masih mencapai kulitnya saja.
  4. Tidak akurat sesuai pengetahuan umum ataupun fakta yang ada.

Di Indonesia, hingga artikel ini ditulis belum ada regulasi jelas yang dikeluarkan oleh otoritas ilmu pengetahuan Indonesia, baik itu dari sisi Direktorat Jenderal Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ataupun Badan Riset dan Inovasi Nasional. Kedua lembaga masih tampak berfokus kepada pendayagunaan AI chatbot seperti ChatGPT [24][25], namun belum meregulasi penggunaannya. Di universitas, baru Universitas Padjadjaran yang tegas meregulasi penggunaan AI chatbot [26].

Dalam menyikapi penggunaan AI chatbot untuk publikasi ilmiah, kita haruslah berhati – hati. Penggunaannya masihlah di taraf boleh kalau sebatas sebagai alat bantu, namun tidak boleh sampai menjadikan ketergantungan.  Karena pada dasarnya, manusialah yang melakukan dan mengusahakan sains, bukan mesin ataupun program.

Referensi

[1] OpenAI. 2022. Introducing ChatGPT. https://openai.com/blog/chatgpt.

[2] Wikipedia Contributors. 2023-. Large Language Model. https://en.wikipedia.org/wiki/Large_language_model.

[3] OpenAI Community. 2023. Knowledge cutoff date of September 2021. https://community.openai.com/t/knowledge-cutoff-date-of-september-2021/66215/5.

[4] Brandl, R., Ellis, C. 2023. ChatGPT Statistics 2023: All the latest statistics about OpenAI’s chatbot. https://www.tooltester.com/en/blog/chatgpt-statistics/.

[5] Microsoft. 2023. Reinventing search with a new AI-powered Microsoft Bing and Edge, your copilot for the web. https://blogs.microsoft.com/blog/2023/02/07/reinventing-search-with-a-new-ai-powered-microsoft-bing-and-edge-your-copilot-for-the-web/.

[6] NVIDIA. 2023. What are Large Language Models used for? https://blogs.nvidia.com/blog/2023/01/26/what-are-large-language-models-used-for/.

[7] Stokel-Walker, C. 2023. ChatGPT listed as author on research papers: many scientists disapprove. Nature. 613 (7946): 620-621. https://dx.doi.org/10.1038/d41586-023-00107-z.

[8] Flavin, M. 2017. Disruptive Technology Enhanced Learning The Use and Misuse of Digital Technologies in Higher Education. London, UK: Palgrave Macmillan.

[9] Girasa, R. 2020. Artificial Intelligence as a Disruptive Technology: Economic Transformation and Government Regulation. Cham, Switzerland: Palgrave Macmillan Cham.

[10] Tong, Y., Zhang, L. 2023. Discovering the next decade’s synthetic biology research trends with ChatGPT. Synthetic and Systems Biotechnology. 8(2):  220-223. https://dx.doi.org/10.1016/j.synbio.2023.02.004.

[11] Howard, A., Hope. W., Gerada, A. 2023. ChatGPT and antimicrobial advice: the end of the consulting infection doctor? The Lancet Infectious Diseases. 23(4): 405-406. https://dx.doi.org/10.1016/S1473-3099(23)00113-5

[12] O’Connor, S., ChatGPT. 2022. Open artificial intelligence platforms in nursing education: Tools for academic progress or abuse? Nurse Education in Practice. 66: 103537. https://dx.doi.org/10.1016/j.nepr.2022.103537.

[13] ChatGPT, Zhavoronkov, A. 2023. Rapamycin in the context of Pascal’s Wager: generative
pre-trained transformer perspective. Oncoscience. 9: 82-84.

[14] King, M.R., ChatGPT. 2023. A Conversation on Artificial Intelligence, Chatbots, and Plagiarism in Higher Education. 16: 1-2. https://doi.org/10.1007/s12195-022-00754-8.

[15] O’Connor, S. 2023. Corrigendum to “Open artificial intelligence platforms in nursing education: Tools for academic progress or abuse?” [Nurse Educ. Pract. 66 (2023) 103537]. Nurse Education in Practice. 67: 103572. https://dx.doi.org/10.1016/j.nepr.2023.1035572.

[16] da Silva, J. A. T. 2023. Is ChatGPT a valid author? Nurse Education in Practice. 68: 103600. https://dx.doi.org/10.1016/j.nepr.2023.103600.

[17] Polonsky, M., Rotman, J. 2023. Should Artificial Intelligent (AI) Agents be Your Co-author? Arguments in favour, informed by ChatGPT. SSRN Preprint No. 4349524. https://dx.doi.org/10.2139/ssrn.4349524.

[18] ICMJE. 2022. Recommendations for the Conduct, Reporting, Editing, and Publication of Scholarly Work in Medical Journals (Updated May 2022). https://www.icmje.org/icmje-recommendations.pdf.

[19] Cotton, D.R.E., Cotton, P.A., Reuben Shipway, J. 2023. Chatting and cheating: Ensuring academic integrity in the era of ChatGPT. Innovations in Education and Teaching International. in press. https://dx.doi.org/10.1080/14703297.2023.2190148.

[20] Cahan, P., Treutlein, B. 2023. A conversation with ChatGPT on the role of computational systems biology in stem cell research. Stem Cell Reports. 18(1): 1-2. https://dx.doi.org/10.1016/j.stemcr.2022.12.009.

[21] van Dis, E.A.M., Bollen, J. Zuidema, W. van Rooji, R., Bockting, C.L. 2023. ChatGPT: five priorities for research. Nature. 614 (7947): 224 -226. https://dx.doi.org/10.1038/d41586-023-00288-7.

[22] Sample, I., 2023. Science journals ban listing of ChatGPT as co-author on papers. https://www.theguardian.com/science/2023/jan/26/science-journals-ban-listing-of-chatgpt-as-co-author-on-papers.

[23] Gluska, J. 2023. How to check if something was written with AI. https://goldpenguin.org/blog/check-for-ai-content/.

[24] Nurhaliza, S. 2023. Anak muda berpotensi manfaatkan teknologi untuk buka lapangan kerja. https://www.antaranews.com/berita/3437175/anak-muda-berpotensi-manfaatkan-teknologi-untuk-buka-lapangan-kerja.

[25] Minasny, B. 2023. ChatGPT; memodelkan bahasa, bukan menghasilkan pengetahuan. https://www.antaranews.com/berita/3443490/chatgpt-memodelkan-bahasa-bukan-menghasilkan-pengetahuan.

[26] Siswadi, A. 2023. Antisipasi Penggunaan ChatGPT, Unpad Siapkan Software Anti Plagiat. https://tekno.tempo.co/read/1691768/antisipasi-penggunaan-chatgpt-unpad-siapkan-software-anti-plagiat.

Maulana Malik Nashrulloh

Maulana Malik Nashrulloh

Lulusan S1 Biologi Universitas Brawijaya (2016) dan S3 Bioteknologi KMUTT (2022). Kepala Divisi Bioteknologi dan Biologi Komputasi Yayasan Generasi Biologi Indonesia (2023-kini).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Kategori

Arsip

LAINNYA
x