Mengenal Aktivitas Bakteri Lactobacillus salivarius

waktu baca 5 menit
Rabu, 1 Nov 2023 22:50 0 1245 Nelson Chandra

Bakteri Lactobacillus salivarius merupakan bakteri asam laktat yang memiliki aktivitas antimikroba karena produksi bakteriosin yang secara langsung menghambat patogen yang diisolasi dari saluran pencernaan manusia, babi, dan unggas (Messaoudi et al., 2013), bakteri ini juga dipercaya dapat membantu menghambat pertumbuhan Helicobacter pylori yang memicu penyakit tukak lambung dan memberikan serangkaian sifat terapeutik termasuk pengendalian dan penekanan bakteri patogen. Bakteri ini termasuk dalam filum Firmicutes yang berbentuk batang, spesies bakteri probiotik Gram positif yang juga merupakan agen probiotik bagi manusia atau hewan (Chapot-Chartier et al., 2014). Lapisan peptidoglikan memiliki urutan asam amino spesifik yang mempengaruhi interaksi bakteri dengan sel inang (Chapot-Chartier et al., 2014).

L. salivarius dianggap sebagai bakteri asam laktat yang memiliki kemampuan menghasilkan asam laktat dari fermentasi (Kuratsu et al., 2010). L. salivarius merupakan bakteri homofermentatif yang hanya memanfaatkan karbohidrat untuk memfermentasi gula melalui jalur Embden-Meyerhof-Parnas (EMP). Gula yang dapat difermentasi adalah monosakarida glukosa, ribosa adonitol, galaktosa, dan masih banyak lagi monosakarida dan disakarida (Claesson et al., 2006). Setiap gula yang umum ditemukan atau komponen makanan yang diproduksi manusia, L. salivarius tumbuh dengan baik di sistem pencernaan manusia (Claesson et al., 2006). Bakteri ini merupakan anaerob fakultatif untuk proses fermentasi (Stern et al., 2006).

Lactobacillus salivarius
Gambar 1. Bakteri Lactobacillus salivarius (sumber)

L. salivarius juga memiliki kemampuan untuk memetabolisme bakteriosin atau aktivitas antimikorbial peptida kecil (Messaoudi et al., 2013). Khasiat tersebut memungkinkan bakteri L. salivarius memiliki probiotik yang bermanfaat bagi manusia. Salah satunya adalah Abp118, merupakan bakteriosin yang menunjukkan antagonisme langsung terhadap patogen manusia, seperti patogen penyebab penyakit bawaan makanan (Corr et al., 2007). Bakteriosin lainnya mempunyai manfaat untuk mengatasi kulit berjerawat (Deidda et al., 2018). Bakteriosin biasanya digunakan sebagai antibiotik dan desinfektan oral dan tropis (Messaoudi et al., 2013).

Ls33, salah satu rantai asam amino, dikaitkan dengan sifat strain anti inflamasi dalam sel usus (Macho et al., 2011). Dinding selnya memiliki asam lipoteichoic (LTA) dan asam dinding teichoic (WTA), merupakan molekul anionik, yang memiliki berbagai peran fungsional. Dinding sel tersebut berperan untuk mengatur gradien pH pada dinding sel, mempertahankan bentuk sel, dan mengenali bakteriofag (Chapot-Chartier et al., 2014). Komponen akhir dinding sel yaitu lapisan S ditemukan pada proses adhesi L.salivarius (Wang et al., 2017). Choline binding protein A (CbpA), merupakan protein S pada dinding sel, dapat mengidentifikasi reseptor CbpA pada sel inang usus manusia untuk memfasilitasi proses pengikatan. Adhesi memungkinkan bakteri untuk menunjukkan fungsi probiotik dengan melindungi garis epitel usus, mengecualikan patogen (Wang et al., 2017).

Efektivitas bakteri L. salivarius terhadap patogen spesifik yang menyebabkan penyakit bawaan makanan, jerawat, iritasi kulit, dan sindrom iritasi usus besar pada manusia ditunjukkan oleh penemuan-penemuan modern (Corr et al., 2007) dan bakteri ini juga telah dibuktikan. Untuk melawan patogen Staphylococcus aureus, bakteri L. salivarius juga dapat menargetkan sel planktonik serta biofilm S. aureus melalui sekresi protein anti-Staphylococcus. (Kang et al., 2017).

Salicinius (SA-03) merupakan subspesies bakteri Lactobacilius salivarius yang mempunyai efek positif, misalnya efek fisik. Peraih medali emas angkat besi putri Olimpiade 2008 yang memiliki berat badan 48 kg ini memiliki pengalaman pada ususnya karena manfaat bakteri yang merupakan isolat mikrobiota usus (Lee et al., 2020).

Referensi:

  1. Chapot-Chartier, M. & Kulakauskas, S. (2014). Cell wall structure and function in lactic acid bacteria. Microbial Cell Factories 13 (Suppl 1):59.
  2. Claesson, M. J., Li, Y., Leahy, S., Canchaya, C., Van Pijkeren, J. P., Cerdeño-Tárraga, A. M., … O’Toole, P. W. (2006). Multireplicon genome architecture of Lactobacillus salivariusProceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 103(17), 6718–6723.
  3. Corr, S. C., Y. Li, C. U. Riedel, P. W. Otoole, C. Hill, & C. G. M. Gahan. (2007). Bacteriocin Production as a Mechanism for the Antiinfective Activity of Lactobacillus Salivarius UCC118. Proceedings of the National Academy of Sciences 104(18):7617–7621.
  4. Deidda, F., Amoruso, A., Nicola, S., Graziano, T., Pane, M., & Mogna, L. (2018). New Approach in Acne Therapy: A Specific Bacteriocin Activity and a Targeted Anti IL-8 Property in Just 1 Probiotic Strain, the L. salivarius LS03. Journal of clinical gastroenterology. 1-4.
  5. Kang, M., Lim, H., Oh, J., Lim, Y., Wuertz-Kozak, K., Harro, J. M., . . . Achermann, Y. (2017). Antimicrobial activity of Lactobacillus salivarius and Lactobacillus fermentum against Staphylococcus aureus. Pathogens and Disease,75(2). doi:10.3897/bdj.4.e7720.figure2f
  6. Lee, M. C., Hsu, Y. J., Ho, H. H., Hsieh, S. H., Kuo, Y. W., Sung, H. C., & Huang, C. C. (2020). Lactobacillus salivarius Subspecies salicinius SA-03 is a New Probiotic Capable of Enhancing Exercise Performance and Decreasing Fatigue. Microorganisms8(4), 545. https://doi.org/10.3390/microorganisms8040545
  7. Messaoudi S, Manai M, Kergourlay G, Prévost H, Connil N, Chobert J-M, Dousset X. Lactobacillus salivarius: bacteriocin and probiotic activity. Food Microbiology. 2013;36(2):296–304.
  8. Stern, N. J., Svetoch, E. A., Eruslanov, B. V., Perelygin, V. V., Mitsevich, E. V., Mitsevich, I. P., … Seal, B. S. (2006). Isolation of a Lactobacillus salivarius Strain and Purification of Its Bacteriocin, Which Is Inhibitory to Campylobacter jejuni in the Chicken Gastrointestinal System. Antimicrobial Agents and Chemotherapy, 50(9), 3111–3116.
  9. Wang R., Jiang L., Zhang M., Zhao L., Hao Y., Guo H., Sang Y., Zhang H. & Ren F. 2017. The Adhesion of Lactobacillus salivarius REN to a Human Intestinal Epithelial Cell Line Requires S-layer Proteins. Sci. Rep 7:44029
Nelson Chandra

Nelson Chandra

Lulusan S1 Bioinformatika (B.Sc) i3L

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Kategori

Arsip

LAINNYA
x